RSS

Arsip Bulanan: Maret 2010

Penghargaan Islam Terhadap Wanita


Penghargaan Islam Terhadap Wanita

Jika kita mengadakan studi banding tentang lingkungan Islam dengan negara-negara barat, kita akan mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh kepada kaum wanita karena kecantikannya, kemulusan tubuhnya dan kedudukan yang tinggi sebagai Miss Universe, atau gelar-gelar lainnya.

Namun, begitu gurat-gurat ketuan telah menghiasi kulit-kulit tubuhnya, rambutnya mulai memutih serta daya tariknya mulai sirna, maka berubahlah fungsi dan kedudukannya menjadi pelengkap pemikul urusan-urusan dapur. Tak seorangpun disekelilingnya yang kini bersedia memperhatikannya. Bahkan putera-puterinya marasa enggan memberikan curahan kasih sayang dan penghormatan sebagaimana layaknya seorang ibu. Mengapa? Sebab bagi mereka wanita hanyalah ibarat perhiasan dan hiburan (kesenangan) belaka, tak lebih dari itu.

Setelah kecantikan dan daya tarik fisiknya telah sirna, maka berakhirlah peran wanita selanjutnya. Sang ibu tidak lagi memperhatikannya, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya mereka tidak rela menjumpai ibu mereka. Ia pun tiada memperdulikan lagi dalm menghadapi problem hidup dihari tuanya. Bahkan mungkin akan menghuni tempat-tempat penampungan orang-orang jompo (manula) untuk mengahiri masa senjanya disana.

Lalu kita bertanya : “Mengapa hal ini mesti terjadi?” karena waktu mudanya ketika kecantikannya masih utuh, menarik semua pandangan, ia tidak sanggup menangkal bujuk rayu setan. Dan kepada putera-putereinya mereka berkata : “Ayolah kalian manfaatkan masa muda ini untuk bersenang-senang, belajarlah mandiri!”. Dengan begitu seorang ibu tidak memiliki kesempatan untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka.

Begitupun sebeliknya, sang anak tidak akan pernah merasakn kasih sayang ibundanya. Maka, tidak heran jika mereka menyelenggarakan HARI IBU setahun sekali agar mereka bisa menjumpai ibunya sekedar menumpahkan rasa rindu dan kangen mereka karena selama kurun waktu cukup panjang perasaan itu tidak didapatknnya.

Sedangkan kita umat islam tidaklah demikian caranya. Kita tidak mengnal hari Ibu. Bagi kita, apabila Ibu sudah tua dan rambutnya sudah memutih, justru semakin cantik pribadinya, semakin besar keanggunan dan kewibawaannya, hingga kita bertambah sayang dan menghormati mereka.

Tidaklah berlebihan bila kita katakan kepadanya: “sekarang ibu tidak usah repot-repot bersibuk diri dengan pekerjaan, cukuplah engkau shalat saja memohon kesejahteraan keluarga kepada Allah Ta’ala”. Semua anggota rumah tangga mengharap do’anya. Bagi mereka, ia adalah ratu rumah tangga yang diagungkan dan dihormati.

Itulah sebabnya mengapa mereka (orang-orang barat) sangat membutuhkan diadakannya hari ibu. Tapi tidak demikian bagi kita sebab setiap saat kita telah memperingati hari ibu. Islam mennyuruh kita untuk mencintai, menghormati dan mengagungkan ibu, sebagaimana tersirat dalam pertanyaan seorang sahabat Rasulullah: “Ya Rasulullah, kepada siapa saya diwasiatkan…?” Beliau menjawab: “kepada ibumu…, kepada ibumu…, kepada ibumu…!”

Inilah islam berbeda dengan wanita barat yang sangat fanatik diselenggarakannya hari ibu, agar anak-anak mereka senantiasa berusaha mengenang ibu-ibu mereka dengan membawa kado sebagai ulang tahunnya. Sedangkan bagi kita sendiri Hari Ibu sudah terselenggara dalam setiap saat sepanjang waktu.

Kita dan segenap anggota keluarga bila ingin keluar dari rumah terlebih dahulu kita mencium tangan ibu sebagai tanda permohonan restu. Lebih dari itu, dangan ramah kita duduk di hadapannya dan menanyakan perihal kesehatannya. Semakin memutih rambutnya saat itu pula semakin bertambah rasa cinta, rindu dan penghargaan kita kepadanya.

Begitulah islam menempatkan kaum wanita pada proporsi mereka yang benar dan menempatkannya sesuai panggilan fitrahnya. Begitu pula pandangan kita terhadap mereka menurut ajaran islam. Bila kita mengkaji hukum islam dari berbagai segi, ia telah membuktikan perannya yang sangat sempurna dalam berbagai model kehidupan sosial masyarakat. Wallohu ‘alam.

 
Leave a comment

Posted by pada 25 Maret 2010 in Birrul Waalidain

 

MUTIARA NASEHAT BAGI PENUNTUT ILMU

MUTIARA NASEHAT SYAIKH IBNU BAZZ TERHADAP THOLIBUL ‘ILM

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu :

Adalah tidak diragukan lagi, bahwasanya menuntut ilmu termasuk seutama-utama amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, termasuk sebab-sebab kesuksesan meraih surga dan kemuliaan bagi pelakunya. Termasuk hal yang terpenting dari perkara-perkara yang penting adalah mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu, menjadikan menuntutnya karena Allah bukan karena selain-Nya. Dikarenakan yang demikian ini merupakan jalan yang bermanfaat baginya dan juga merupakan sebab diperolehnya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

Dan sungguh telah datang sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, dia takkan mendapatkan harumnya bau surga di hari kiamat.” [Dekeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan}.

Dan dikeluarkan pula oleh Turmudzi dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membantah ulama, atau mengumpulkan orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.".

Maka kunasehatkan kepada tiap-tiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim –yang mengetahui perkataan ini- untuk senantiasa mengikhlaskan segala macam amalan karena Allah, sebagai pengejawantahan firman Allah :

"Artinya : Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia beramal sholih dan tidak mensekutukan Allah di dalam peribadatan sedikitpun.". [Al-Kahfi : 110].

Dan di dalam shohih Muslim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda :

“Artinya : Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari kesyirikan, barangsiapa yang beramal suatu amalan yang mensekutukan-Ku dengan selain-Ku, kutinggalkan ia dengan sekutu-Nya.”

Aku wasiatkan pula kepada tiap tholibul ‘ilm dan tiap muslim untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa segala urusannya diawasi oleh-Nya, sebagai implementasi firman Allah.

“Artinya :Sesungguhnya orang-orang yang takut dengan Rabb mereka yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” [Al-Mulk : 12]

Dan firmanNya.

“Artinya : Dan bagi orang-orang yang takut dengan Tuhannya disediakan dua surga.” [Ar-Rahman : 46].

Berkata sebagian salaf, “Inti dari ilmu adalah takut kepada Allah”.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Cukuplah takut kepada Allah itu dikatakan sebagai ilmu dan cukuplah membangkang dari-Nya
dikatakan sebagai kejahilan.”.

Berkata sebagian salaf : “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah nsicaya dia lebih takut kepada-Nya”. Dan menunjukkan kebenaran makna ini sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Artinya : Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang lebih takut kepada Allah daripada kalian dan aku lebih bertakwa kepada-Nya daripada kalian”. [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].

Oleh karena itulah, kekuatan ilmu seorang hamba terhadap Allah adalah merupakan sebab kesempurnaan takwa dan keikhlasannya, wuqufnya (berhentinya) dia dari batasan-batasan Allah dan kehati-hatiannya dari kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman,

“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama”. [Fathir : 28].

Maka ulama yang mengetahui Allah dan agamanya, mereka adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, serta mereka adalah orang yang paling mampu menegakkan agama-Nya. Di atas mereka ada pemimpin-pemimpin mereka dari kalangan Rasul dan Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam- kemudian para pengikut mereka dengan lebih baik.

Nabi mengabarkan termasuk tanda-tanda kebahagiaan adalah fahamnya seorang hamba akan agama Allah. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

“Artinya : Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya” [Dikeluarkan di dalam shahihain dari hadits Mu’awiyah Rahiallahu ‘anhu]

Tidaklah hal yang demikian ini melainkan dikarenakan faham terhadap agama akan mendorong seorang hamba untuk menegakkan perintah Allah, untuk takut kepada-Nya dan memenuhi kewajiban-kewajiban-Nya, menghindari apa-apa yang membuat-Nya murka. Faham terhadap agama akan membawanya kepada akhlak yang mulia, amal yang baik, dan sebagai nasehat kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.

Aku memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk menganugerahkan kita, seluruh penuntut ilmu dan kaum muslimin seluruhnya, dengan pemahaman di dalam agama-Nya dan istiqomah di atasnya. Semoga Allah melindungi kita dari seluruh keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita, sesunggunya Allahlah pelindung dari hal ini dan Ia maha memiliki kemampuan atasnya.

Semoga Shalawat dan Salam tercurahkan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.

[Diterjemahkan dari Mansyurat Markaz Imam Albany lid Dirasat al-Manhajiyah wal Abhatsil Ilmiyyah : Min Durori Kalimaati Samahatis Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz –rahimahullah- Nashihatu Lithullabatil ‘ilm, oleh Abu Salma bin Burhan]

 
Leave a comment

Posted by pada 25 Maret 2010 in Birrul Waalidain

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.