RSS

Ayah, Bolehkah Berpacaran?

02 Mei

ABSTRACT:
Mungkin ada diantara kita selaku orangtua yang tidak
mampu bersikap tegas dalam menyampaikan ajaran Islam,
terutama yang berhubungan dengan psikoseksual remaja.
Kita ‘malu’ menyampaikan kebenaran, padahal itu adalah
kewajiban kita untuk menyampaikannya dan hak mereka
untuk mengetahuinya. ‘Ayah, bolehkah berpacaran?’
mungkin salah satu pertanyaan yang lambat laun akan
menyergap kita. Salah satu jawaban yang cerdas,
memuaskan dan tepat, mungkin dapat kita simak dari
artikel di bawah ini.
Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk memberikan yang
terbaik kepada putra-putri kita, yaitu pendidikan yang
baik dan adab yang mulia.

********************************************************

Seorang ayah, bila ia mempunyai putra yang beranjak
remaja, lambat atau cepat ia akan disergap oleh
pertanyaan seperti ini: ‘Ayah, bolehkah berpacaran?’
Pengertian berpacaran، menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah bercintaan, berkasih-kasihan.

Sebagai Ayah yang baik, kita sudah seharusnya sejak
jauh hari berusaha menyiapkan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan tak terduga seperti itu. Namun
seringkali kita tidak siap dengan jawaban ketika
pertanyaan tadi terlontar dari mulut anak kita.
Seorang ayah mempunyai posisi strategis. Ayah tidak
saja menjadi pemimpin bagi keluarganya, seorang ayah
juga seharusnya bisa menjadi teman bagi anak-anaknya,
menjadi narasumber dan guru bagi anak-anaknya.

‘Tiada pemberian seorang bapak terhadap anak-anaknya
yang lebih baik dari pada (pendidikan) yang baik dan
adab yang mulia.’ (HR At-Tirmidzy)

‘Barangsiapa yang mengabaikan pendidikan anak, maka ia
telah berbuat jahat secara terang-terangan …’ Ibnu
Qayyim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan
dimintai pertangungjawaban terhadap apa yang kamu
pimpin. Seorang suami (ayah) adalah pemimpin bagi
anggota keluarganya, dan ia akan dimintai
pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya
atas mereka. (HR Muslim).

Ada sebuah contoh yang datangnya dari keluarga Pak
Syamsi. Ketika Iwan anak remajanya bertanya soal
berpacaran, Pak Syamsi yang memang sudah sejak lama
mempersiapkan diri, dengan santai memberikan jawaban
seperti ini: ‘Boleh nak, sejauh berpacaran yang
dimaksud adalah sebagaimana yang terjadi antara Ayah
dan Bunda’ Pak Syamsi menjelaskan kepada Iwan, bahwa
berpacaran adalah menjalin tali kasih, menjalin kasih
sayang, dengan lawan jenis, untuk saling
kenal-mengenal, untuk sama-sama memahami kebesaran
Allah di balik tumbuhnya rasa kasih dan sayang itu.
Oleh karena itu, berpacaran adalah ibadah. Dan sebagai
ibadah, berpacaran haruslah dilakukan sesuai dengan
ketentuan Allah, yaitu di dalam lembaga perkawinan.

Di dalam sebuah Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari
dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: ،بJangan sekali-kali seorang laki-laki
bersendirian dengan  seorang perempuan, melainkan si
perempuan itu bersama mahramnya.’ ‘Di luar ketentuan
tadi, maka yang sesungguhnya terjadi adalah perbuatan
mendekati zina, suatu perbuatan keji dan terkutuk yang
diharamkan ajaran Islam (Qs. 17:32).

Allah SWT telah mengharamkan zina dan hal-hal yang
bertendensi ke arah itu, termasuk berupa kata-kata
(yang merangsang), berupa perbuatan-perbuatan tertentu
(seperti membelai dan sebagainya).’ Demikian
penjelasan Pak Syamsi kepada Iwan anak remajanya.

“DI DALAM LEMBAGA PERKAWINAN, ANANDA BISA BERPACARAN
DENGAN BEBAS DAN TENANG, BISA SALING MEMEMBELAI DAN
MENGASIHI, BAHKAN LEBIH JAUH DARI ITU, YANG SEMULA
HARAM MENJADI HALAL SETELAH MENIKAH, YANG SEMULA
DIHARAMKAN TIBA-TIBA MENJADI HAK BAGI SUAMI ATAU ISTRI
YANG APABILA DITUNAIKAN DENGAN IKHLAS KEPADA ALLAH
AKAN MENDATANGKAN PAHALA.” Demikian penjelasan pak
Syamsi kepada Iwan.

“Namun jangan lupa, sambung pak Syamsi, “ISLAM
MENGAJARKAN DUA HAL YAITU MEMENUHI HAK DAN KEWAJIBAN
SECARA SEIMBANG. DI DALAM LEMBAGA PERKAWINAN, KITA
TIDAK SAJA BISA MENDAPATKAN HAK-HAK KITA SEBAGAI SUAMI
ATAU ISTERI, NAMUN JUGA DITUNTUT UNTUK MEMENUHI
KEWAJIBAN, MENAFKAHI DENGAN LAYAK, MEMBERI TEMPAT
BERNAUNG YANG LAYAK, DAN YANG TERPENTING ADALAH
MEMBERI PENDIDIKAN YANG LAYAK BAGI ANAK-ANAK KELAK
…”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang yang membina anaknya adalah lebih baik
daripada ia bersedekah satu sha’ … (HR At-Tirmidzy).

“Nah, apabila ananda sudah merasa mampu memenuhi kedua
hal tadi, yaitu hak dan kewajiban yang seimbang, maka
segeralah susun sebuah rencana berpacaran yang baik di
dalam sebuah lembaga perkawinan yang dicontohkan
Rasulullah…” Demikian imbuh pak Syamsi.

Seringkali kita sebagai orangtua tidak mampu bersikap
tegas di dalam menyampaikan ajaran Islam, terutama
yang sangat berhubungan dengan perkembangan
psikoseksual remaja. Seringkali kita ‘malu’
menyampaikan kebenaran yang merupakan kewajiban kita
untuk menyampaikannya, sekaligus merupakan hak anak
untuk mengetahuinya. Sebagai anak, seorang Iwan memang
harus mempunyai tempat yang cukup layak untuk
menumpahkan aneka pertanyaannya. Sebagai lelaki muda,
yang ia butuhkan adalah sosok ayah yang dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaannya dengan cerdas, memuaskan, dan
tepat. Seorang ayah yang mampu menjawab pertanyaan
bukan dengan marah-marah. Berapa banyak remaja seperti
Iwan diantara kita yang tidak punya tempat bertanya
yang cukup layak?

Bagi seorang Iwan, sebagaimana dia melihat kenyataan
yang terjadi di depan matanya, berpacaran adalah
memadu kasih diantara dua jenis kelamin yang berbeda,
sebuah ajang penjajagan, saling kenal diantara dua
jenis kelamin berbeda, antara remaja putra dengan
remaja putri, yang belum tentu bermuara ke dalam
lembaga perkawinan. Hampir tak ada seorang pun remaja
seperti Iwan yang mau menyadari, bahwa perilaku
seperti itu adalah upaya-upaya mendekati zina, bahkan
zina itu sendiri!

Celakanya, hanya sedikit saja diantara orangtua yang
mau bersikap tegas terhadap perilaku seperti ini.
Bahkan, seringkali sebagian dari orangtua kita justru
merasa malu jika anaknya yang sudah menginjak usia
remaja belum juga punya pacar. Sebaliknya, begitu
banyak orangtua yang merasa bangga jika mengetahui
anaknya sudah punya pacar. ‘Berapa banyak kejahatan
yang telah kita buat secara terang-terangan …?’

Di sebuah stasiun televisi swasta, ada program yang
dirancang untuk mempertemukan dua remaja berlawanan
jenis untuk kelak menjadi pacar. Di stasiun teve
lainnya ada sebuah program berpacaran (dalam artian
perbuatan mendekati zina) yang justru diasosiasikan
dengan heroisme, antara lain dengan menyebut para
pelakunya (para pemburu pacar) sebagai “pejuang.” Dan
bahkan para “pejuang” ini mendapat hadiah berupa uang
tunai yang menggiurkan anak-anak remaja. Perilaku para
“pejuang” ini disaksikan oleh banyak remaja, sehingga
menjadi contoh bagi mereka.

Makna pejuang telah bergeser jauh dari tempatnya
semula. Seseorang yang melakukan perbuatan mendekati
zina disebut “pejuang.” Hampir tidak pernah kita
mendengar ada seorang pelajar yang berprestasi disebut
pejuang. Jarang kita dengar seorang atlet berprestasi
disebut pejuang.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

Sumber :  Alhikmah.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Mei 2010 in Dunia Remaja

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: