RSS

Cicak, Gravitasi, Volume Semesta dan Logika Keteraturan

28 Sep

Cicak, Gravitasi, Volume Semesta dan Logika Keteraturan

Sedikit narasi ringan untuk para scientist …

Ketika melihat cicak bergerak lincah dalam posisi terbalik sambil
mengejar makanannya yang terbang (seperti nyamuk dsj.), terpikir
untuk mengetahui dengan teknologi apa cicak itu “melawan” gravitasi
bumi dan berapa “power” yang dimiliki kaki-kakinya untuk bisa
bergerak lincah tanpa terjatuh atau terpengaruh medan gaya gravitasi
bumi yang sedemikian dekat itu. Kita tahu cicak tidak punya sayap
atau perangkat terbang lainnya.

Dari para peneliti cicak, kita mengetahui bahwa ternyata di kaki
cicak tidak terdapat zat perekat sejenis “lem”. Bila teknologi
perekatan itu berupa zat semisal lem, maka tentu cicak tidak dapat
bergerak selincah itu. Bila itu soal “lem”, maka cicak mungkin saja
tidak jatuh ke bumi, tapi itu tidak menjelaskan kenapa cicak bisa
bergerak selincah itu. Dan di dinding atau langit-langit bekas
lintasan lari cicak juga tidak ditemukan bekas-bekas “lem”. Para
peneliti kemudian menemukan, ternyata pada kaki-kaki cicak terdapat
ribuan rambut-rambut yang sangat halus, yang bersifat kohesif
dan “merekat” pada permukaan dinding tertentu, menahan bobot
badannya “melawan” gravitasi bumi, untuk sekaligus mampu bergerak
dengan lincahnya. Daya rekat rambut-rambut halus di kaki cicak itu
berbanding bobot badannya dan medan gaya gravitasi bumi, menimbulkan
kekaguman tersendiri. Cobalah kita menghitung dengan rumus gravitasi
Newton, perbandingan antara ukuran kaki cicak dan volume atau massa
cicak itu serta tingkat kelincahan geraknya di dinding yang sangat
dekat ukurannya dengan permukaan bumi. Ingat, kombinasi “perekatan”
dan “kelincahan gerak”.

Ini kejadian luar biasa bukan?

Ternyata ada kejadian lain yang lebih menarik. Masih sekitar
gravitasi juga. Menyadari bentuk bumi yang bulat nyaris seperti bola,
bergerak melintasi ruang angkasa dalam orbit gravitasi matahari, maka
ternyata kita adalah “cicak-cicak” angkasa yang berjalan dan berlari-
lari di “dinding-dinding” permukaan bumi ini, bila dilihat dari jarak
tertentu di langit sana. Kenapa kita tidak terlempar ke ruang
angkasa? Mungkin ini yang terpikir di benak Newton ketika melihat
apel itu malah jatuh ke bumi dan bukan terlempar ke angkasa? Massa
bumi yang cukup besar, berputar pada porosnya dengan kecepatan yang
tinggi (hampir 2.000 km per jam!), menimbulkan medan gaya gravitasi
pada sebagian wujud benda yang berdekatan dengannya. Begitu pula
sebab munculnya orbit bulan pada bumi, orbit bumi pada matahari,
orbit matahari pada pusat galaksi, orbit galaksi pada “super” galaksi
dst. Dari sinilah para ilmuwan antariksa merumuskan besaran “power”
dan “kecepatan” yang dibutuhkan sebuah benda untuk terbang melawan
gravitasi benda-benda langit semisal bumi ini, sehingga dapat
bergerak bebas (=terbang) di dalam dan di luar area medan gaya
gravitasi atau orbit benda langit tersebut.

Karena keleluasaan gerak kita di permukaan bumi, sering tanpa sadar
kita mengira bahwa bumi ini sedemikian besarnya, dan melihat bulan,
matahari dan bintang hanya sekedar hiasan dan aksesoris langit saja,
yang tak jarang kita abaikan keberadaannya, kecuali kesadaran akan
adanya siang dan malam yang datang silih berganti, sebagai cirri
masing-masing aksesori langit itu.

Ketika meneliti lebih lanjut hamparan bintang di langit ini, kita
disadarkan bahwa volume bumi tempat kita bergerak lincah seperti
cicak-cicak angkasa ini, ternyata sangatlah kecil. Sedemikian kecil,
bahkan terlalu besar untuk disebut “micro”. Bintang terdekat kita
atau matahari, memiliki volume jutaan kali volume bumi. Di galaksi
kita, terdapat milyaran bintang semisal matahari dengan berbagai
ukuran. Dan entah berapa jumlah galaksi di semesta ini.

Mari kita lanjutkan perjalanan kita.

Jarak bumi ke matahari sekitar 150 juta kilometer, atau sekitar 8
menit waktu yang dibutuhkan untuk ke sana bila kita dapat bergerak
dengan kecepatan cahaya ( +/- 300.000 km / detik ). Di antara bintang-
bintang di langit yang teramati mata kita lewat teropong bintang, ada
yang diperhitungkan berjarak ratusan milyar tahun cahaya. Artinya
bila kita dapat bergerak dengan kecepatan cahaya, maka baru setelah
ratusan milyar tahun kita bisa “sampai” ke sana (entah apa wujud kita
setelah melintasi ruang pada kecepatan cahaya dan setelah melalui
usia ratusan milyar tahun itu?)

Lalu berapa volume semesta ini bila jarak bintang yang teramati
lewat “somekind of hubble stuff” itu saja sudah ratusan milyar tahun
cahaya? Bila kita percaya bahwa ruang semesta ini bersifat “statis”
saja (dan “kepercayaan” seperti ini sudah tertolak dengan temuan-
temuan terbaru para ilmuwan antariksa), maka volume semesta sudah
sedemikian besarnya. Maka berapakah volume semesta bila
kita “percaya” bahwa ruang semesta ini berkembang? Para ilmuwan
antariksa, seperti fisikawan Stephen Hawkins, yang “percaya” dengan
teori “expanding universe” setelah “diawali” proses “big bang” (yang
dari sana kemudian dipahami antara lain tentang fenomena “bintang
mati” yang kemudian dinamai “black hole” itu, yang karena energi
ekspansi nya habis, ia “mengkerut” dan memiliki gravitasi yang
sedemikian kuat sehingga mampu menarik hampir semua wujud materi di
sekitar orbit nya, termasuk cahaya), telah menemukan sebagian
pembuktiannya di ruang “laboratorium” angkasa ini, dengan fakta yang
teramati lewat “hubble stuff” itu bahwa posisi bintang-bintang dan
galaksi itu dari “waktu ke waktu” ternyata tidak statis melainkan
saling menjauh mengikuti “pola” tertentu (di samping fakta lain
seputar “debu-debu kosmik” sebagai “residu” yang mengiringi peristiwa
ledakan kosmik). Jadi meski posisi “bintang utara” tempat para pelaut
tradisional mempedomani arah pelayarannya itu terlihat tetap pada
tempatnya dari doeloe hingga sekarang, sebenarnya ia bergerak menjauh
dari posisinya (meski masih “di utara” juga, ketika kita melihatnya
dari permukaan bumi dari titik koordinat manapun kita berada).

Lalu apa hubungannya “expanding universe” itu dengan volume semesta?

Meyakini bahwa ruang semesta ini terus berkembang, membuat kita tidak
dapat menetapkan “kebenaran” absolut tentang berapa ukuran volume
semesta ini sebenarnya (mengingat tiap saat ia berekspansi). Lalu
berapa kecepatan dan “power” ekspansinya, sampai berapa lama umurnya
dari “awal” proses “big bang” itu hingga sekarang (lihat “history of
universe” nya Hawkins), dan masih berapa lama lagi ia berekspansi,
kapan terjadi “kematian” pusat power ekspansi ini sehingga terjadi
proses “black hole” di pusat ruang semesta sehingga segalanya
terlipat tersedot kembali ke satu titik dengan volume nol seperti
sebelum “big bang” (yang membuat skenario kiamat versi film Armagedon
nya Bruce Willis terlihat seperti karikatur ringan dari proses chaos
semesta itu).

Mengetahui semua jawaban di atas (yang sepertinya tetap merupakan
tekateki abadi sepanjang waktu) saja belum menuntaskan seluruh
pertanyaan kita. Masih tersisa “sedikit” pertanyaan, yakni tentang
fenomena “keteraturan semesta”.

Bila kita “percaya” dengan big bang, expanding universe, black hole,
etc, maka bagaimana kita menjawab fenomena “keteraturan” proses
expanding universe ini sehingga tidak terjadi proses ekspansi yang
acak, sehingga ledakan pusat ekspansi yang disusul ledakan pusat
galaksi dan bintang-bintang itu tidak saling bertabrakan dan
menimbulkan chaos di ruang angkasa, sedemikian sehingga “bintang
utara” tetap di “utara” meski bergerak menjauh dari waktu ke waktu?

“Keteraturan” itu juga kita saksikan pada benda bulat mungil yang
bergerak santai dalam orbitnya di ruang angkasa ini (=bumi kita ini
lho!), dengan “bonus indah” berupa atmosfernya yang berfungsi
melindungi bumi dari tabrakan ringan benda-benda langit
berukuran “mini” serta dari bahaya radiasi matahari, dan dipenuhinya
atmosfer bumi ini oleh zat-zat penyubur “kehidupan” seperti air,
udara, kecukupan sinar & cahaya matahari, dll, di tengah sekian
milyar wujud benda langit lainnya. Bukankah hampir tidak ada di
antara kita yang pernah merasa “stress” membayangkan potensi tabrakan
maut planet bumi ini dengan milyaran benda langit lain sebagai
konsistensi dari “kepercayaan” nya bahwa benda-benda langit itu
bergerak tanpa aturan (hanya mengikuti sifat-sifat natural nya
saja) ?

Padahal kita menyaksikan bahwa “keteraturan” itu ternyata
tidak “berhenti” pada fenomena makro benda-benda langit berukuran
super besar (semisal planet, bintang, galaksi dst.) itu, melainkan
juga pada setiap benda sampai ke tingkat partikel sub atomik.
Keteraturan yang berupa tetapnya sifat-sifat unik tiap wujud materi
dan adanya korelasi kausalistik pada pertemuan tiap wujud materi
dengan wujud materi lainnya, dengan kekecualian unik pada sebagian
peristiwa yang untuk sementara dikatagorikan ke dalam fenomena
metafisika suprarasional.

Bagaimana kita menyimpulkan fakta-fakta “keteraturan semesta” ini … ?

Mengapa sebagian (besar?) scientist selalu siap untuk “percaya” pada
aksioma apapun yang melatari fenomena keteraturan semesta ini, selain
bahwa “ada” yang telah menyebabkan segala keteraturan itu, dan bahwa
yang menyebabkan segala keteraturan itu masih dan terus “terlibat
aktif” di balik segala fenomena yang ada?

Mengapa … ?

Salam Hangat

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 September 2010 in Islam dan Pengetahuan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: