RSS

Masa Taklif (pembebanan) Syar’i

27 Feb
  • Ayah yang kami hormati, kemarin telah kita sepakati untuk membicarakan masalah taklif syar’i (pembebanan hukum syari’at) dan masa baligh. Saya kira masalah terpenting untuk kita beri batasan yang jelas adalah tentang kapan berawalnya masa tersebut, dan kapan seorang menjadi baligh dan mukallaf (dibebani hukum syari’at) menurut pandangan agama?

Banar wahai anakku, menjawab soal di atas merupakan awal langkah dalam pembahasan ini. Jadi, sebelum membahas persoalan apapun yang berkaitan dengan taklif dan baligh maka kita harus memberikan batasan yang jelas tentang kapan masa itu terjadi.

Dan karena masa ini merupakan masa awal dari taklif syar’i, serta merupakan masa yang memisahkan antara anak-anak dan dewasa dalam pandangan syari’at, maka syari’at membuat beberapa tanda yang jelas dan pasti, di mana dengan itu tidak mungkin bercampur antara masa itu dengan masa yang sebelunmya.

Tanda-tanda baligh yang pertama adalah keluar mani, baik ketika jaga maupun tidur. Kedua, tumbuhnya rambut kemaluan, yaitu rambut yang tumbuh seputar kemaluan laki-laki atau seputar kemaluan wanita. Tanda ketiga, telah masuk umur 15 tahun menurut perhitungan tahun Qamariyah. Karena itu, sebagian orang yang mencatat umurnya dengan tahun Miladiyah akan melakukan kesalahan dalam hal ini, sebab mereka mengira bahwa baligh itu berdasarkan tahun tersebut.

Adapun anak gadis maka ada dua tanda lain, yaitu haid dan hamil. Maka jika seorang pemuda atau gadis

mendapati salah satu dari tanda-tanda ini berarti ia telah masuk baligh, dan setelah itu tidak disyaratkan adanya tanda-tanda lain.

  • Alangkah baiknya jika ayah menyebutkan beberapa hukum yang berkaitan degan keluarnya mani?

Ini adalah pertanyaan yang penting, wahai anakku. Banyak pemuda ketika sudah masuk masa baligh, ia dikagetkan dengan beberapa keadaan yang tidak dia ketahui hukumnya, atau persoalannya secara rinci. Dan karena malu, ia  pun enggan bertanya. Akibatnya, ia terjebak pada berbagai kesalahan syari’at. Padahal, tidak ada alasan baginya untuk itu, selama ada orang tempat ia bertanya atau meminta fatwa dari para guru atau ustadznya.

Ketahuilah wahai anakku, apa yang keluar disebabkan oleh syahwat itu ada dua macam :

Pertama : madzi. Yaitu cairan encer yang keluar (dari kemaluan) setelah adanya syahwat dengan tanpa memancar dan tak terasa keluarnya. Cairan tersebut najis, dan kemaluannya wajib ia basuh kemudian berwudhu, tetapi ia tidak wajib mandi.

Kedua : mani. Ia adalah cairan putih yang kental, keluar dengan memancar dan nikmat, hukumnya suci, demikian menurut pendapat yang benar. Kelurnya mani mewajibkan mandi, baik itu keluar dalam keadaan tidur maupun jaga.

Jika mani itu keluar degan secara sengaja, yang dilakukan oleh orang berpuasa maka batallah puasanya. Tetapi jika mani itu keluar dari orang yang berpuasa saat ia tidur, atau tanpa sengaja maka puasanya tetap sah.

  • · Wahai ayah, sebagian pemuda mendapati waktu shalat Dhuhur di sekolahan mereka, padahal ia dalam keadaan wajib mandi, tapi ia tetap shalat dengan tanpa mandi.

Ini adalah masalah yang berbahaya. Seorang muslim tidak boleh shalat sedang ia dalam keadaan janabat sampai ia mandi. Jika ia dalam keadaan janabat, ia tidak boleh malu meminta izin. Jika ia tidak diizinkan maka jika ia bisa sampai ke rumahnya sebelum habis waktu shalat –dan biasanya memang demikian- maka ia bisa mengakhirkan shalat hingga sampai di rumahnya, lalu mandi dan shalat.

  • Masa ini merupakan masa permulaan taklif, apa maksud taklif itu, wahai ayah?

Maksudnya, sebelum masa ini, kawajiban agama belum dibebankan kepadamu. Dan sekarang, saat engkau telah baligh maka engkau telah masuk masa taklif syar’i. Dan saat itu wajib bagimu segala kewajiban yang diwajibkan atas orang-orang dewasa. Engkau wajib bersuci dari dua hadats; kecil dan besar. Engkau juga wajib shalat, puasa dan haji. Engkau juga wajib berjihad di jalan Allah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar.

Lalu, segala kesalahan dan dosamu akan ditulis. Maka, dusta, ghibah, mengadu domba, durhaka, melihat kepada yang haram dan hal lain yang diharamkan Allah, semua itu jika kamu lakukan akan ditulis sebagai kejahatan, dan engkau akan mendapatkan balasannya pada hari Kiamat. Adapun sebelum masa taklif, maka tidak demikian halnya, tetapi engkau hendaknya mentaati perintah dan menjauhi larangan sebagai latihan dan persiapan bagimu untuk menghadapi masa yang penting tersebut.

  • Saya memahami hal tersebut secara baik, tetapi ketika seorang pemuda diuji dengan ayah yang tidak taat kepada Allah, sehingga ia mendidiknya tidak atas apa yang diridhai Tuhan, apakah hal itu termasuk udzur (alasan) baginya.

Tidak mungkin hal itu bisa menjadi udzur (alasan) baginya, wahai anakku. Sebab ia kini membawa tanggung jawab penuh atas dirinya. Tidak seorang pun, bahkan hingga bapaknya, yang akan memikul dosanya. Karena itu, jika orang tuamu menyuruh berbuat maksiat dan mencegahmu dari ketaatan maka engkau tidak boleh menurutinya. Jika engkau mentaatinya atau mengikutinya dalam perbuatan yang engkau sendiri memandangnya buruk maka engkau akan memikul dosa tersebut secara penuh, dan ia tidak akan membawakan sedikit pun dosamu. Memang benar, ia bisa membawa dosa ajakannya terhadapmu kepada maksiat, tetapi hal itu sama dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam :

“siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

  • Dari situ saya memahami bahwa seorang pemuda yang tidak dibangunkan oleh ayahnya atau ibunya untuk shalat shubuh, maka hal itu bukan merupakan alasan baginya.

Betul wahai anakku, ia wajib memikul tanggung jawab itu sendiri. Karena itu ia harus meminta ayah, ibu atau orang lain agar membangunkannya. Jijka hal itu tidak mungkin maka hendaknya ia berusaha sendiri. Pada zaman sekarang, hal itu akan mudah diatasi. Ia misalnya bisa menyimpan jam beker, atau meminta salah seorang temannya menghubungi lewat telpon atau sarana-sarana lain.

  • Tetapi wahai ayah, sebagian pemuda beralasan bahwa Allah memberi udzur syar’i bagi orang yang tidur hingga ia bangun, bagaimana tentang kebenaran alasan ini?

Hal ini wahai anakku, hanya khusus untuk mereka yang telah berusaha bangun. Ia tidur pada waktu yang tepat, dan ia memiliki seseorang atau sesuatu yang membangunkannya. Jika hal itu dilakukan tetap belum juga bangun maka saat itulah ia disebut orang yang memiliki udzur. Dan ini hanya terjadi pada kondisi-kondisi tertentu saja. Adapun jika hal itu merupakan kebiasaannya setiap hari, atau tidak bangunnya itu merupakan sesuatu yang paling sering terjadi maka ini merupakan bukti bahwa dia memang meremehkan dan menggampangkan persoalan.

  • Saya pahami apa yang ayah utarakan, tetapi sebagian pemuda ada yang menganggap dirinya tidak mampu melakukan sebagian beban syari’at, dan ia menganggap dirinya masih kecil?

Engkau mengetahui secara yakin bahwa Allah lah yang menciptakan dirimu, kekuatanmu, keinginan-keinginan hawa nafsumu. Allah berfirman :

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Al-Mulk : 14).

Allah memilih masa itu sebagai awal taklif. Dan ini artinya engkau telah mampu mengembannya, mampu menjalankan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan bahwa engkau mampu menjauhi setiap yang diharamkan dan dilarang atasmu.


mendapati salah satu dari tanda-tanda ini berarti ia telah masuk baligh, dan setelah itu tidak disyaratkan adanya tanda-tanda lain.

· Alangkah baiknya jika ayah menyebutkan beberapa hukum yang berkaitan degan keluarnya mani?

Ini adalah pertanyaan yang penting, wahai anakku. Banyak pemuda ketika sudah masuk masa baligh, ia dikagetkan dengan beberapa keadaan yang tidak dia ketahui hukumnya, atau persoalannya secara rinci. Dan karena malu, ia  pun enggan bertanya. Akibatnya, ia terjebak pada berbagai kesalahan syari’at. Padahal, tidak ada alasan baginya untuk itu, selama ada orang tempat ia bertanya atau meminta fatwa dari para guru atau ustadznya.

Ketahuilah wahai anakku, apa yang keluar disebabkan oleh syahwat itu ada dua macam :

Pertama : madzi. Yaitu cairan encer yang keluar (dari kemaluan) setelah adanya syahwat dengan tanpa memancar dan tak terasa keluarnya. Cairan tersebut najis, dan kemaluannya wajib ia basuh kemudian berwudhu, tetapi ia tidak wajib mandi.

Kedua : mani. Ia adalah cairan putih yang kental, keluar dengan memancar dan nikmat, hukumnya suci, demikian menurut pendapat yang benar. Kelurnya mani mewajibkan mandi, baik itu keluar dalam keadaan tidur maupun jaga.

Jika mani itu keluar degan secara sengaja, yang dilakukan oleh orang berpuasa maka batallah puasanya. Tetapi jika mani itu keluar dari orang yang berpuasa saat ia tidur, atau tanpa sengaja maka puasanya tetap sah.

· Wahai ayah, sebagian pemuda mendapati waktu shalat Dhuhur di sekolahan mereka, padahal ia dalam keadaan wajib mandi, tapi ia tetap shalat dengan tanpa mandi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2011 in Dunia Remaja

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: